Peter and his Pan

20120130-213039.jpg

Peter:
I want always to be a boy, and have fun.
Wendy:
You say so, but I think it is your biggest pretend
Wendy:
I think you have, Peter. And I daresay you’ve felt it yourself. For something… or… someone?
Peter:
Never. Even the sound of it offends me.
[Wendy tries to touch his face, and he jumps away]
Peter:
Why do you have to spoil everything? We have fun, don’t we? I taught you to fly and to fight. What more could there be?
Wendy:
There is so much more.
Peter:
What? What else is there?
Wendy:
I don’t know. I guess it becomes clearer when you grow up.
Peter:
Well, I will not grow up. You cannot make me!
Peter:
Forget them, Wendy. Forget them all. Come with me where you’ll never, never have to worry about grown up things again

Mature:
1. characteristic of maturity
example: mature for her age
2. having reached full natural growth or development
example: a mature cell
(source: wordnet30)

Satu hal yang seharusnya dialami oleh setiap anak manusia, menjadi dewasa. Tapi hal itu pula yang selalu menjadi momok bagi penulis dan juga beberapa teman penulis lainnya, takut (bahkan gak mau) untuk menjadi dewasa.

Hal yang mungkin jadi pemicu utama bagi penulis adalah yang namanya being a mature itu akan menambahkan kewajiban yang lebih besar lagi bagi penulis, yang dimana kadang masih takut untuk menghadapinya. Sama seperti tokoh kartun yang terdapat pada prolog di atas.. Seperti Peter Pan..

Memang, bagi sebagian orang dan pribadi penulis saat masih kuliah dan juga mengutip omongan temen saya @ghi2, “Menjadi tua itu sebuah kepastian, tapi menjadi dewasa itu sebuah pilihan.” Ya, mungkin dulu saya sependapat, tapi kini semua berubah.. Dsn mungkin juga anda.

Perubahan itu terjadi setelah saya memasuki dunia kerja tepatnya setelah menjelang seperempat abad. Saat itu, semakin banyak kewajiban yang harus saya penuhi karena bertambahnya pendapatan saya, terutama yang berhubungan dengan keluarga. Awalnya saya gak ambil pusing dan tetap berfikiran selayaknya anak mahasiswa yang dapat rejeki dari hasil ngawas ujian. Tapi lambat laun, saat saya bertingkah kekanakan, banyak hal yang saya sadari bahwa tingkah polah itu tidaklah dapat menyelesaikan kewajiban yang ada.

Bagaimana saya bisa berubah? Apakah saya bisa berubah secepat saya membalikkan telapak tangan?? Tentu saja tidak!

Saya termasuk ke dalam tipe orang yang lebih menyukai proses yang baik dari pada hasil yang baik tapi prosesnya amburadul. Saat banyak kendala yang terjadi, baik menimpa keluarga maupun pribadi saya sendiri, dan saya masih bersikap kekanakan, saya merasa aneh.. Sangat aneh.

Saat itu, cara yang paling baik menurut saya adalah dengan belajar untuk melihat seluruh kewajiban yang ada dari berbagai sudut pandang, tidak satu, setidaknya dua sudut pandang. Jika anda sudah bisa melakukan itu, saya yakin bahwa secara tidak langsung, anda sebenarnya sudah meningkat tingkat kedewasaannya 😉

Iih.. Kk berat banget yah bahasannya.. Biarlah.. Tulisan ini hanya merupakan acuan buat diri saya sendiri dan mungkin bisa juga berguna untuk teman2 semua. Meskipun pada akhirnya, semua itu hanyalah pilihan yang memang harus anda pilih. Apakah mau tetap seperti Peter Pan yang hidup di NeverLand tanpa harus beranjak dewasa atau mau menjalani hidup di dunia nyata dan memilih satu pilihan yang ada di kalimat sebelumnya? Semua itu pilihan Anda. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s